<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ceritaanak.net</title>
	<atom:link href="http://www.ceritaanak.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritaanak.net</link>
	<description>Cerita Anak, Dongeng Anak, Cerita Rakyat, Cerita Lucu Anak</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Aug 2010 03:25:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Semut dan Belalang</title>
		<link>http://www.ceritaanak.net/2010/08/semut-dan-belalang-2/</link>
		<comments>http://www.ceritaanak.net/2010/08/semut-dan-belalang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 03:25:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Binatang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak semut dan belalang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritaanak.net/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Pada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.
&#8220;Apa!&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritaanak.net/wp-content/uploads/2010/08/43-semut-dan-belalang1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-211" title="43-semut-dan-belalang" src="http://www.ceritaanak.net/wp-content/uploads/2010/08/43-semut-dan-belalang1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Pada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.</p>
<p>&#8220;Apa!&#8221; teriak sang Semut dengan terkejut, &#8220;tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan,&#8221; keluh sang Belalang; &#8220;Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu.&#8221;</p>
<p>Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.</p>
<p>&#8220;Membuat lagu katamu ya?&#8221; kata sang Semut, &#8220;Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!&#8221; Kemudian semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang Belalang lagi.</p>
<p><em>Ada saatnya untuk bekerja dan ada saatnya untuk bermain.</em></p>
<p><em>Aesop<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritaanak.net/2010/08/semut-dan-belalang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Kambing dan Srigala</title>
		<link>http://www.ceritaanak.net/2010/08/anak-kambing-dan-srigala/</link>
		<comments>http://www.ceritaanak.net/2010/08/anak-kambing-dan-srigala/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 03:23:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Binatang]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Kambing dan Srigala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritaanak.net/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[

Seekor anak kambing yang sangat lincah telah ditinggalkan oleh penggembalanya di atas atap jerami kandang untuk menghindari anak kambing itu dari bahaya. Anak kambing itu mencari rumput di pinggir atap, dan saat itu dia melihat seekor serigala dan memandang serigala itu dengan raut muka yang penuh dengan ejekan dan dengan perasaan yang penuh kemenangan, dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="readerDisplay">
<p><img class="alignleft" title="Anak kambing di atas atap mengejek sang Serigala yang berada di bawahnya" src="http://www.ceritakecil.com/images/illustration/cerita/0000/25-anak-kambing-dan-serigala.jpg" alt="Anak kambing dan seekor serigala" width="159" height="230" /></p>
<p>Seekor anak kambing yang sangat lincah telah ditinggalkan oleh penggembalanya di atas atap jerami kandang untuk menghindari anak kambing itu dari bahaya. Anak kambing itu mencari rumput di pinggir atap, dan saat itu dia melihat seekor serigala dan memandang serigala itu dengan raut muka yang penuh dengan ejekan dan dengan perasaan yang penuh kemenangan, dia mulai mengejek serigala tersebut, walaupun pada saat itu dia tidak ingin mengejek sang Serigala, tetapi karena dia merasa serigala tersebut tidak akan dapat naik ke atas atap dan menangkapnya, timbullah keberaniannya untuk mengejek.</p>
<p>Serigala itupun menatap anak kambing itu dari bawah, &#8220;Saya mendengarmu,&#8221; kata sang Serigala, &#8220;dan saya tidak mendendam pada apa yang kamu katakan atau kamu lakukan ketika kamu diatas sana, karena itu adalah atap yang berbicara dan bukan kamu.&#8221;</p>
<p><em>Jangan kamu berkata sesuatu yang tidak kamu ingin katakan terus menerus</em></p>
<p><span style="color: #3366ff;">Aesop </span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritaanak.net/2010/08/anak-kambing-dan-srigala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alibaba dan 40 Penyamun</title>
		<link>http://www.ceritaanak.net/2010/02/alibaba-dan-40-penyamun/</link>
		<comments>http://www.ceritaanak.net/2010/02/alibaba-dan-40-penyamun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 09:38:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Alibaba dan 40 Penyamun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritaanak.net/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu kala, dikota Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba. Alibaba adalah adik Kasim yang hidupnya miskin dan tinggal didaerah pegunungan. Ia mengandalkan hidupnya dari penjualan kayu bakar yang dikumpulkannya. Berbeda dengan abangnya, Kasim, seorang yang kaya raya tetapi serakah dan tidak pernah mau memikirkan kehidupan adiknya.
Suatu hari, ketika Alibaba pulang dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dahulu kala, dikota Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba. Alibaba adalah adik Kasim yang hidupnya miskin dan tinggal didaerah pegunungan. Ia mengandalkan hidupnya dari penjualan kayu bakar yang dikumpulkannya. Berbeda dengan abangnya, Kasim, seorang yang kaya raya tetapi serakah dan tidak pernah mau memikirkan kehidupan adiknya.</p>
<p>Suatu hari, ketika Alibaba pulang dari mengumpulkan kayu bakar, ia melihat segerombol penyamun yang berkuda. Alibaba segera bersembunyi karena takut jika ia terlihat, ia akan dibunuh. Dari tempat persembunyiannya, Alibaba memperhatikan <span id="more-197"></span>para penyamun yang sedang sibuk menurunkan harta rampokannya dari kuda mereka. Kepala penyamun tiba-tiba berteriak, &#8220;Alakazam ! Buka…..&#8221;. Pintu gua yang ada di depan mereka terbuka perlahan-lahan. Setelah itu mereka segera memasukkan seluruh harta rampokan mereka. &#8220;Alakazam ! tutup… &#8221; teriak kepala penyamun, pintu gua pun tertutup.</p>
<p>Setelah para penyamun pergi, Alibaba memberanikan diri keluar dari tempat sembunyinya. Ia mendekati pintu gua tersebut dan meniru teriakan kepala penyamun tadi. &#8220;Alakazam! Buka…..&#8221; pintu gua yang terbuat dari batu itu terbuka. &#8220;Wah… Hebat!&#8221; teriak Alibaba sambil terpana sebentar karena melihat harta yang bertumpuk-tumpuk seperti gunung. &#8220;Gunungan harta ini akan Aku ambil sedikit, semoga aku tak miskin lagi, dan aku akan membantu tetanggaku yang kesusahan&#8221;. Setelah mengarungkan harta dan emas tersebut, Alibaba segera pulang setelah sebelumnya menutup pintu gua. Istri Alibaba sangat terkejut melihat barang yang dibawa Alibaba. Alibaba kemudian bercerita pada istrinya apa yang baru saja dialaminya. &#8220;Uang ini sangat banyak… bagaimana jika kita bagikan kepada orang-orang yang kesusahan..&#8221; ujar istri Alibaba. Karena terlalu banyak, uang emas tersebut tidak dapat dihitung Alibaba dan istrinya. Akhirnya mereka sepakat untuk meminjam kendi sebagai timbangan uang emas kepada saudaranya, Kasim. Istri Alibaba segera pergi meminjam kendi kepada istri Kasim. Istri Kasim, seorang yang pencuriga, sehingga ketika ia memberikan kendinya, ia mengoleskan minyak yang sangat lengket di dasar kendi.</p>
<p>Keesokannnya, setelah kendi dikembalikan, ternyata di dasar kendi ada sesuatu yang berkilau. Istri Kasim segera memanggil suaminya dan memberitahu suaminya bahwa di dasar kendi ada uang emas yang melekat. Kasim segera pergi ke rumah Alibaba untuk menanyakan hal tersebut. Setelah semuanya diceritakan Alibaba, Kasim segera kembali kerumahnya untuk mempersiapkan kuda-kudanya. Ia pergi ke gua harta dengan membawa 20 ekor keledai. Setibanya di depan gua, ia berteriak &#8220;Alakazam ! Buka…&#8221;, pintu batu gua bergerak terbuka. Kasim segera masuk dan langsung mengarungkan emas dan harta yang ada didalam gua sebanyak-banyaknya. Ketika ia hendak keluar, Kasim lupa mantra untuk membuka pintu, ia berteriak apa saja dan mulai ketakutan. Tiba-tiba pintu gua bergerak, Kasim merasa lega. Tapi ketika ia mau keluar, para penyamun sudah berada di luar, mereka sama-sama terkejut. &#8220;Hei maling! Tangkap dia, bunuh!&#8221; teriak kepala penyamun. &#8220;Tolong… saya jangan dibunuh&#8221;, mohon Kasim. Para penyamun yang kejam tidak memberi ampun kepada Kasim. Ia segera dibunuh.</p>
<p>Istri Kasim yang menunggu dirumah mulai kuatir karena sudah seharian Kasim tidak kunjung pulang. Akhirnya ia meminta bantuan Alibaba untuk menyusul saudaranya tersebut. Alibaba segera pergi ke gua harta. Disana ia sangat terkejut karena mendapati tubuh kakaknya sudah terpotong. Setibanya dirumah, istri Kasim menangis sejadi-jadinya. Untuk membantu kakak iparnya itu Alibaba memberikan sekantung uang emas kepadanya. Istri Kasim segera berhenti menangis dan tersenyum, ia sudah lupa akan nasib suaminya yang malang. Alibaba membawa tubuh Kasim ke tukang sepatu untuk menjahitnya kembali seperti semula. Setelah selesai, Alibaba memberikan upah beberapa uang emas.</p>
<p>Dilain tempat, di gua harta, para penyamun terkejut, karena mayat Kasim sudah tidak ada lagi. &#8220;Tak salah lagi, pasti ada orang lain yang tahu tentang rahasia gua ini, ayo kita cari dan bunuh dia!&#8221; kata sang kepala penyamun. Merekapun mulai berkeliling pelosok kota. Ketika bertemu dengan seorang tukang sepatu, mereka bertanya,&#8221;Apakah akhir-akhir ini ada orang yang kaya mendadak ?&#8221;. &#8220;Akulah orang itu, karena setelah menjahit mayat yang terpotong, aku menjadi orang kaya&#8221;. &#8220;Apa! Mayat! Siapa yang memintamu melakukan itu?&#8221; Tanya mereka. &#8220;Tolong antarkan kami padanya!&#8221;. Setelah menerima uang dari penyamun, tukang sepatu mengantar mereka ke rumah Alibaba. Si penyamun segera memberi tanda silang dipintu rumah Alibaba. &#8220;Aku akan melaporkan pada ketua, dan nanti malam kami akan datang untuk membunuhnya,&#8221; kata si penyamun. Tetangga Alibaba, Morijana yang baru pulang berbelanja melihat dan mendengar percakapan para penyamun.</p>
<p>Malam harinya, Alibaba didatangi seorang penyamun yang menyamar menjadi seorang pedagang minyak yang kemalaman dan memohon untuk menginap sehari dirumahnya. Alibaba yang baik hati mempersilakan tamunya masuk dan memperlakukannya dengan baik. Ia tidak mengenali wajah si kepala penyamun. Morijana, tetangga Alibaba yang sedang berada diluar rumah, melihat dan mengenali wajah penyamun tersebut. Ia berpikir keras bagaimana cara untuk memberitahu Alibaba. Akhirnya ia mempunyai ide, dengan menyamar sebagai seorang penari. Ia pergi kerumah Alibaba untuk menari. Ketika Alibaba, istri dan tamunya sedang menonton tarian, Morijana dengan cepat melemparkan pedang kecil yang sengaja diselipkannya dibajunya ke dada tamu Alibaba.<br />
Alibaba dan istrinya sangat terkejut, sebelum Alibaba bertanya, Morijana membuka samarannya dan segera menceritakan semua yang telah dilihat dan didengarnya. &#8220;Morijana, engkau telah menyelamatkan nyawa kami, terima kasih&#8221;. Setelah semuanya berlalu, Alibaba membagikan uang peninggalan para penyamun kepada orang-orang miskin dan yang sangat memerlukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :<br />
dongeng1001malam.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritaanak.net/2010/02/alibaba-dan-40-penyamun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualangan Sinbad</title>
		<link>http://www.ceritaanak.net/2010/01/petualangan-sinbad/</link>
		<comments>http://www.ceritaanak.net/2010/01/petualangan-sinbad/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 18:31:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan sinbad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritaanak.net/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu, di daerah Baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan. Sambil istirahat, ia menyanyikan lagu. &#8220;Namaku Sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dahulu, di daerah Baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan. Sambil istirahat, ia menyanyikan lagu. &#8220;Namaku Sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan.&#8221; Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh Sinbad masuk karena dipanggil tuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apakah namamu Sinbad ?&#8221;, &#8220;Benar Tuan&#8221;. &#8220;Namaku juga Sinbad&#8221;, kata sang saudagar. Ia pun mulai bercerita, &#8220;Dulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu nasibku juga buruk, orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi <span id="more-193"></span>aku hanya bermain dan menghabiskan harta saja. Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal dan seisinya. Karena sudah lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan ikan. Tiba-tiba , permukaan tanah bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut berjatuhan ke laut. Begitu jatuh ke laut, aku sempat melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di atas badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia mulai bergerak liar.<br />
Mereka yang terjatuh ke laut di libas ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan. Aku haus, disana ada pohon kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun, dan mendekati telur itu, tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan saya yang mengerikan. Ternyata, seekor burung naga yang amat besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya. Sinbad menyelinap dikaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan kainnya. &#8220;Kalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia tinggal.&#8221; Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan. Ia terbang melewati pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung naga turun di sebuah tempat yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan bersembunyi di balik batu. Sekarang Sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun, melihat disekelilingnya banyak berlian.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu, &#8220;Bruk&#8221; ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar. Di gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar. Untuk mengambil berlian, manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh burung naga dengan berlian yang sudah menempel didaging itu. Sinbad mempunyai ide. Ia segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging. Tak berapa lama burung naga datang dan mengambil gundukan daging, lalu terbang dari dasar jurang. Tiba-tiba, &#8220;Klang! Klang! Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan cepat-cepat terbang tinggi. Orang-orang yang datang untuk mengambil berlian, terkejut ketika melihat Sinbad.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinbad menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian orang-orang pengambil berlian mengantarkan Sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad menjual berlian yang didapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang banyak. Ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari, kapal Sinbad dirampok oleh para perompak. Kemudian Sinbad dijadikan budak yang akhirnya dijual kepada seorang pemburu gajah. &#8220;Apakah kau bisa memanah?&#8221; Tanya pemburu gajah. Sang pemburu memberi Sinbad busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas. &#8220;Ini adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu&#8221;. &#8220;Baik tuan,&#8221; jawab Sinbad ketakutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Esok pagi, datang gerombolan gajah. Saat itu pemimpin gajah melihat Sinbad dan langsung menyerang pohon yang dinaiki Sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah. Gajah itu kemudian menggulung Sinbad dengan belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan dibunuh atau di banting ke tanah. Ternyata, gajah itu membawa Sinbad dengan kelompok mereka ke sebuah gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan membawa Sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua. &#8220;Ku..kuburan gajah!&#8221; Sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah. Pemimpin gajah berkata,&#8221;kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya, berhentilah membunuh kami.&#8221; Sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ia pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya dengan syarat tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan Sinbad uang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sampai disini dulu ceritaku&#8221;, ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya. &#8220;Aku bisa menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. Jangan putus asa, sampai kapanpun, apalagi jika kita masih muda,&#8221; lanjut sang saudagar.</p>
<p>Sumber :<br />
dongeng1001malam.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritaanak.net/2010/01/petualangan-sinbad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudagar Jerami</title>
		<link>http://www.ceritaanak.net/2010/01/saudagar-jerami/</link>
		<comments>http://www.ceritaanak.net/2010/01/saudagar-jerami/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 20:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng saudagar jerami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritaanak.net/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa. &#8220;Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan&#8221;. &#8220;Tolonglah aku agar hidup senang&#8221;. Sejak saat itu setiap selesai bekerja, Taro pergi ke kuil. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa. &#8220;Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan&#8221;. &#8220;Tolonglah aku agar hidup senang&#8221;. Sejak saat itu setiap selesai bekerja, Taro pergi ke kuil. Suatu malam, sesuatu yang aneh membangunkan Taro. Di sekitarnya menjadi bercahaya, lalu muncul suara. &#8220;Taro, dengar baik-baik. Peliharalah baik-baik benda yang pertama kali kau dapatkan esok hari. Itu akan membuatmu bahagia.&#8221;</p>
<p>Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil, Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang menggenggam sebatang jerami. &#8220;Oh, jadi yang dimaksud Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan kebahagiaan…?&#8221;, pikir Taro. Walaupun agak kecewa dengan benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil membawa jerami. Di tengah jalan ia <span id="more-191"></span>menangkap dan mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut terbang berputar-putar pada jerami yang sudah diikatkan pada sebatang ranting. &#8220;Wah menarik ya&#8221;, ujar Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal. Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil memperhatikan lalat Taro. &#8220;Aku ingin mainan itu.&#8221; Seorang pengawal datang menghampiri Taro dan meminta mainan itu. &#8220;Silakan ambil&#8221;, ujar Taro. Ibu anak tersebut memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro.</p>
<p>&#8220;Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk&#8221;, ujar Taro dalam hati. Ketika meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat kehausan. &#8220;Maaf, adakah tempat di dekat sini mata air ?&#8221;, tanya wanita tadi. &#8220;Ada dikuil, tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku&#8221;, kata Taro sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu. &#8220;Terima kasih, berkat engkau, aku menjadi sehat dan segar kembali&#8221;. Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro, kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi. &#8220;Aduh, padahal kita sedang terburu-buru.&#8221; Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu. Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu. Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2 gulung kain yang tersisa.</p>
<p>Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya.</p>
<p>Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan barang-barang. &#8220;Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat,&#8221; pikir Taro. Kemudian taro masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik rumah berkata,&#8221;Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak mempunyai uang. Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?&#8221;. &#8220;Baik, uang kalau dipakai segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau ditukar&#8221;, kata Taro.</p>
<p>&#8220;Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau tinggal disini untuk menjaganya ?&#8221;, Tanya si pemilik rumah. &#8220;Baik, Terima kasih Tuan&#8221;. Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya yang sangat banyak.</p>
<p>Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia diberi julukan &#8220;Saudagar Jerami&#8221;. Para tetangganya yang kaya datang kepada Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritaanak.net/2010/01/saudagar-jerami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukang Sepatu dan Liliput</title>
		<link>http://www.ceritaanak.net/2010/01/tukang-sepatu-dan-liliput/</link>
		<comments>http://www.ceritaanak.net/2010/01/tukang-sepatu-dan-liliput/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 09:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng tukang sepatu dan liliput]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritaanak.net/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu kala, disebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah tidak mempunyai orangtua. Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritaanak.net/wp-content/uploads/2010/01/tkgsepatuliliput.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-200" title="tkgsepatu&amp;liliput" src="http://www.ceritaanak.net/wp-content/uploads/2010/01/tkgsepatuliliput-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a>Dahulu kala, disebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, “Kalau sepatu ini terjual, kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak bersepatu di depan toko mereka. “Kasihan sekali gadis itu ! Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu”. Akhirnya mereka memberikan <span id="more-189"></span>sepatu berwarna merah tersebut kepada gadis kecil itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita”, kata si kakek. Malam tiba, merekapun tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul kurcaci-kurcaci mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke hutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang sepatu yang sangat hebat. Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada Hari Raya. “Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa”.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam berikutnya, terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu mengintip, dan melihat para kurcaci yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat sepatu. “Wow”, pekik si kakek. “Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para kurcaci itu”. “Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian”, lanjut si nenek. “Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih”. Kemudian nenek memotongh kain, dan membuatkan baju untuk para kurcaci itu. Sedangkan kakek tidak tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup para kurcaci. Setelah selesai mereka menjajarkan sepatu dan aju para kurcaci di ruang kerjanya. Mereka juga menata meja makan, menyiapkan makanan dan kue yang lezat di atas meja.<br />
Saat tengah malam, para kurcaci berdatangan. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu banyaknya makanan dan hadiah di ruang kerja kakek. “Wow, pakaian yang indah !”. Merek segera mengenakan pakaian dan sepatu yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek. Setelah selesai menyantap makanan, mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari berikutnya para kurcaci tidak pernah dating kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi sejak saat itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga walaupun mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim piatu, uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :<br />
dongeng1001malam.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritaanak.net/2010/01/tukang-sepatu-dan-liliput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
